Saturday, May 31, 2008

Sastra, Buku dan Peradaban
Oleh : Reza Ervani

Bismilahirrahmanirrahiim

Syeikh Abdul Halim Mahmud (mantan Pemimpin tertinggi Al Azhar Mesir) menulis dalam bukunya al Quran fii syahr al Quran bahwa :

Dengan kalimat Iqra' bismi rabbik, Al Quran tidak sekedar memerintahkan untuk membaca, tapi `membaca' adalah lambang dari segala apa yang dilakukan oleh manusia, baik yang sifatnya aktif maupun pasif. Kalimat tersebut dalam pengertian dan semangatnya ingin menyatakan `Bacalah demi Tuhanmu, bergeraklah demi Tuhanmu, bekerjalah demi Tuhanmu'. Demikian juga apabila anda berhenti bergerak atau berhenti melakukan sesuatu aktifitas, maka hendaklah hal tersebut juga didasarkan pada bismi rabbik sehingga pada akhirnya ayat tersebut berarti `Jadikan seluruh kehidupanmu, wujudmu, dalam cara dan tujuannya, kesemuanya demi karena Allah'

Sayyid Quthb dalam fii Zhilal menuliskan ketika menafsirkan surah Al Alaq :

...., tampak jelas pula hakikat pengajaran Tuhan kepada manusia dengan perantaraan `kalam' (pena dan segala sesuatu yang semakna dengannya). Karena, kalam merupakan alat pengajaran yang paling luas dan paling dalam bekasnya di dalam kehidupan manusia.

Prof. Quraish Shihab dalam tafsir Al Mishbah menuliskan :

... Dari uraian diatas kita dapat menyatakan bahwa kedua ayat diatas menjelaskan dua cara yang ditempuh Allah swt dalam mengajar manusia. Pertama, melalui pena (tulisan) yang harus dibaca oleh manusia ...
***

Tiga kutipan diatas tampaknya sudah cukup untuk mengantar sebuah pernyataan bahwa membaca dan menulis adalah sebuah kerja peradaban.

Kenapa Rasulullah saw mendapatkan mu'jizat berupa sebuah kitab suci, bukan keajaiban membelah lautan, bukan keajaiban menghidupkan orang mati, dan bukan keajaiban-keajaiban yang sulit dicari alasan ilmiahnya atau bahkan riwayat shohihnya. Karena peradaban akhir zaman dibangun diatas kerja membaca dan menulis.

Jadi naif rasanya, jika kegiatan membangun sebuah peradaban baru, dilakukan dengan melupakan kerja membaca dan menulis. Nonsense rasanya, jika visi membangun pendidikan yang lebih baik dilakukan dengan melupakan dunia pena dan pustaka.

Sejarah sering menceritakan kepada kita, betapa mujahid sejati senantiasa basah dengan darah di medan perang dan basah pula dengan tinta di medan pemikiran.

Yang kurang dari bangsa besar inipun sebenarnya cuma satu, menulis dan membaca dengan seksama.

Kita lebih sering berkomentar dan berceloteh sebelum usai membaca. Usai membaca bukanlah khatam sekali dua, karena mungkin ada kata simpul yang tak tercerna, mungkin ada kalimat kunci yang belum terbuka, mungkin ada makna yang belum terkuak.

Dalam bahasa Quran, dikenal dengan istilah tartil, yang terambil dari kata ratala yang antara lain berarti serasi dan indah. Ucapan-ucapan yang disusun secara rapi dan diucapkan dengan baik dan benar dilukiskan dengan kata-kata tartil al Kalam.

Mungkin karena kita jarang membaca dengan tartil, lahirlah pendapat-pendapat prematur yang jangankan masuk ke ranah ilmiah, dipahamipun sulit jadinya. Lalu ditanam pula pendapat-pendapat itu pada lahan yang kering sehingga berbuah selisih paham dan debat berkepanjangan. Naudzubillahi min dzalik.

Sebuah buku tak hanya judul yang terpampang di sampul, tapi alur halaman-halamannya merupakan buah pikir yang dirapikan dengan seksama, ditelaah kembali dengan membaca dan membandingkan. Mungkin karena itu berat bagi komentator dan spesialis penulis kata pengantar untuk melahirkan sekian banyak buku. Bukan karena sulit, tapi pola pikiran yang masih terlalu acak dan eksplosif sangat rumit untuk diterjemahkan dalam lembaran-lembaran terstruktur. Allahu `Alam.

Pikiran-pikiran yang rapi, bab-bab yang rapi, hingga judul yang rapi kadang hilang makna pula, jika tak bertemu pembaca yang memiliki jeda waktu yang rapi untuk berhenti sejenak memahami emosi yang tersembunyi dibalik rangkaian huruf.

Orang-orang dengan jeda teratur inilah yang kekuatan katanya harus pula didengarkan oleh mereka yang berjuang dalam kata dan kalimat. Karena jeda mereka mengantarkan orang-orang itu mampu menelaah sekian banyak lembar yang terkadang tak sempat tersentuh oleh seorang penulis. Mungkin itu alasan kenapa Quran menyandingkan pendengaran setelah hati, sebelum penglihatan. Karena mendengar lebih sulit daripada melihat. Membaca seksama jauh lebih sulit daripada melihat sekilas. Tak perlu alasan, karena anda pasti mendengar bisikan sang penulis ketika melihat rangkaian kalimatnya dengan teliti, tapi dapat dipastikan bahwa anda hanya akan mendengar komentar emosi hati sendiri ketika membacanya tanpa jeda.

Begitu pula peradaban, ia tidak lahir serta merta. Kalaupun ada, pondasi rapuhnya hanya akan mengantarkannya pada era sejarah, yang kadang bisa terkenang, tapi lebih banyak tidak. Pondasinya lahir dari telaah mendalam yang merupakan buah dari kerja `membaca'. Lembaran-lembaran itu nantinya berubah menjadi nilai yang menjaga dan memberi warna. Jika begitu banyak lembaran yang salah dan tidak ada yang meluruskan, maka kehancurannya hanyalah persoalan waktu.

Jadi jika ada yang bertanya kepada seorang muslim tentang cara ia membangun peradaban baru, maka dengan singkat ia menjawab,"Iqro, bismirabbikaladzi khalaq"

Dinamika peradaban yang dibaca dengan seksama.
Membaca seksama yang mengkristal menjadi pikir yang mendalam.
Buah pikir mendalam yang digubah secara teliti menjadi Sastra.
Sastra yang dirapikan dalam sebuah buku.
Akan mengantarkan kita kepada pintu peradaban yang diimpikan.
Peradaban yang dibangun dengan Nama Tuhan yang Menciptakan.

Insya Allah.

Bandung, 26 Jumadil Ula 1429 H, berteman Teh Melati hangat buatan Istri
Kutulis untuk sahabat Fiyan Arjun, jangan biarkan penamu mengering karena komentar lima menit, juga buat crew Penerbitan Rumah Ilmu Indonesia, kerja kalian adalah kerja melahirkan peradaban, jangan lemah ...

komunitas : http://groups.yahoo.com/group/rezaervani

Wednesday, May 14, 2008

Ada Cinta di Masjidku
karya Reza Ervani

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Alhamdulillah .. Alhamdulillah .. Alhamdulillah ..
Setelah menunggu sekian lama, akhirnya ada kepastian Buku Pertama kami akan terbit. Insya Allah diluncurkan pertama kali pada tanggal 31 Mei 2008 yang akan datang.


Yang lebih membanggakan adalah penerbitnya adalah Rumah Ilmu Indonesia Publishing yang dipimpin oleh Kang Aditya Purana, sebagai salah satu sayap pengembangan Rumah Ilmu Indonesia.


Insya Allah akan digelar pula Acara Bedah Buku Pertamanya pada bulan Juni 2008 di Bandung. Tunggu infonya dari Rumah Ilmu Indonesia Publishing.


Buku ini berisikan koleksi tulisan penulis di berbagai media semenjak tahun 2002. Oleh penerbit tulisan-tulisan ini kemudian dibagi menjadi dua sub tema besar :
1. Aku Cinta karena Aku Hamba
2. Aku Cinta karena Aku Manusia

Pemesanan sudah bisa dilakukan dari saat email ini diumumkan.
Info pemesanan bisa menghubungi :
Rumah Ilmu Indonesia Publishing
Uni Intan : 0813 212 90770
email : penerbitan [at] rezaervani dot com

Insya Allah sebagian besar keuntungan penjualan buku ini akan didedikasikan untuk pengembangan dunia pendidikan Indonesia

Maju Terus Guru & Pendidikan Nasional

Salam,
Rumah Ilmu Indonesia Publishing
www.rezaervani.com
komunitas : http://groups.yahoo.com/group/rezaervani

Saturday, March 29, 2008

Kesepian dalam Keramaian
Oleh : Reza Ervani

Apa yang kita impikan, kerja keras yang kita lakukan untuk menggapai mimpi itu, pengorbanan yang kita berikan, kadang tak bisa kita ceritakan ke sembarang orang. Lebih sering kita simpan sendiri, sampai nanti kita temukan teman untuk berbagi.

Pencapaian-pencapaian kehidupan juga seringkali tidak bisa kita kisahkan dengan penuh kebanggaan pada sembarang orang. Lebih sering kita kemas sendiri dalam sebuah kotak kenangan yang kadang menjadi berdebu dan terlupakan bersama waktu.

Kondisi itu seringkali membuat kita merasa begitu kesepian dalam keramaian …
Bahkan jika ada kesempatan, kita memilih untuk surut ke sudut, menikmati perasaan dengan cara kita sendiri, menatap langit dan gemintang sambil menghela nafas panjang dan mengumpulkan energi-energi kehidupan untuk berkarya lebih lama lagi.

Kesepian dalam keramaian …
Kadang muncul di ruang stasiun kereta yang ramai, kadang muncul di dalam bus yang riuh …
Jendela dengan pemandangan langit diluar mengantarkan kita pada kenangan perjalanan hidup yang tidak mudah telah kita lewati, dan di depannya mungkin juga ada jalan yang lebih panjang lagi serta jauh lebih berat dari yang pernah kita lalui.

Tapi seringkali pula dalam perjalanan itu kita temukan sosok lembut yang mengulurkan tangannya membimbing kita melangkah, memberikan apa yang ia punyai untuk tetap percaya pada mimpi-mimpi kita, memberikan seikat keteguhan yang ia tanamkan langsung ke dalam jiwa kita

Diskusi-diskusi ringan sering kita bawa pulang sebagai oleh-oleh spiritual yang begitu kaya gizi kehidupan. Diskusi yang menyebabkan kita rindu dengan layar komputer dimana sebuah tanda berkedip menandakan kehadirannya … Ada tawa dan senyum yang ia hadirkan di lelah hari.

Ketika itu hilang untuk beberapa saat … ada yang seakan terenggut pula dari diri kita, dan kita selalu menanti ia kembali, dan yang terpenting masih tetap mematri nama kita di hati kecilnya, dan menyisipkan nama kita di dalam doanya.

Rindu, …
Dia anugerah yang tak pernah lekang dari hati manusia …
Kerinduan yang membuat kita tetap melangkah, walau acapkali kesepian dalam keramaian itu menyergap di hari-hari kita …

Dan sungguh hari-hari ini ada seukir kerinduan dalam benakku …

(Kutulis khusus untuk Almarhum Ayahanda Tercinta dan Mbak Indah … Aku Rindu Kalian)
Di Batas Langit Malam, 7.22 WIB

http://www.rezaervani.com/


http://groups.yahoo.com/group/rezaervani



Wednesday, March 19, 2008

Alhamdulillah … Dia Memilihku Ya Robb
Oleh : Reza Ervani

Sebuah doa indah diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam :

“Ya Allah! Aku mohon pemilihan Mu menerusi pengetahuan Mu
dan aku mohon kekuatan Mu menerusi kudrat Mu
serta aku minta pada Mu sebahagian dari limpah kurnia Mu yang sangat besar.

Sesungguhnya Engkau amat berkuasa sedangkan aku tidak berkuasa,
Engkau amat mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui
dan sesungguhnya Engkau amat mengetahui segala yang ghaib.

Ya Allah kiranya Engkau mengetahui bahawa perkara ini adalah baik bagiku
dalam urusan agama ku
juga dalam urusan penghidupan ku serta natijah pada urusan ku,
kini dan akan datang,
maka tetapkan lah ia bagi ku dan permudahkanlah ia untukku,
serta berkatilah daku padanya.

Dan kiranya Engkau mengetahui bahawa perkara ini membawa kejahatan kepadaku
dalam urusan agamaku,
juga dalam urusan penghidupanku dan natijah urusanku,
kini dan akan datang,
maka elakkanlah ia dariku
dan tetapkanlah kebaikan untukku sebagaimana sepatutnya,
kemudian jadikanlah daku meredhainya.”


Doa indah itu ditutup dengan kalimat itu “tsummardhii bihi” (kemudian ridhokan aku padanya).

Ada konsekuensi dari tiap pilihan. Bukan saja perjuangan saat akan memilihnya, tapi pula ketika pilihan itu dijatuhkan, juga nanti setelah pilihan itu ditetapkan.

Doa itu mengajarkan kita runut prioritas dalam penetapan pilihan.

Yang Pertama, Baik untuk Agama
Yang Kedua, Baik untuk Urusan Penghidupan
Yang Ketiga, Baik untuk Hasil Urusan
Yang Keempat, Baik untuk Saat Ini
Yang Kelima, Baik untuk Masa Depan

Sayap keseimbangan itu senantiasa kita dapati dalam pelajaran-pelajaran baginda Rasul tentang pengharapan dan asa yang digantungkan pada Sang Pencipta. Menempatkan keputusan pada mizan logika dan tawakal, karena ada sisi yang dapat dikalkulasi dengan teliti, tapi lebih banyak lagi yang tak mampu dicerna oleh sebongkah daging di dalam kepala kita ini.

Tidak ada yang salah dalam ketetapan Allah ...
Yang mungkin salah adalah penyikapan kita akan ketetapan itu.

Tak banyak yang tahu penyikapan yang baik itulah yang disebut dengan baik sangka.
Ia nantinya melahirkan cinta dan energi perbaikan yang tak pernah terduga.
Membawa keberkahan yang mengalirkan kesegaran dalam nadi-nadi kehidupan.
Sehingga kala ruang syukur itu terbuka lebar dalam dada kita, dengan lirih kita akan mengakui kelemahan praduga yang telah kita vonis di hari-hari lalu dengan sebuah ucapan pengakuan ….

Sebuah ucapan pengakuan
Alhamdulillah … Dia Memilihku ya Robb …

Bandung, Medio Maret 2008
Salam,
Al Faqir ila Robbihi
Reza Ervani
Menghitung hari Menjelang Anugerah Terindah dariMu
Komunitas :
http://groups.yahoo.com/group/rezaervani
http://www.rezaervani.com/

Saturday, March 15, 2008

Puisi Untuk Bidadari
Oleh : Reza Ervani

Kutuliskan pagi ini untukmu
Engkau yang digambarkan dengan indah olehNya
Lam yathmishunna insun qoblahum wa la jaann
Belum tersentuh sebelumnya oleh manusia dan jin

Kucoba tulis dengan sepenuh hati
Mudah-mudahan kau baca dengan matamu
yang pula dibentuk tanpa cela olehNya
Wa huurun ‘iin … Bermata jeli

Jika Surga disebut ayat suci dengan maqoomin aamin
Tempat yang aman
Maka disanalah orang-orang yang dadanya penuh keyakinan
Melabuhkan harapan …

Kutuliskan puisi sederhana ini untukmu
Dengan ribuan pertanyaan
Adakah mungkin maqoomin aamin itu terbit di dunia
Tempat dimana kutitipkan harapan

Allah pula yang telah menciptakan aku
Sehingga kuserahkan padaNya pula penguasaan atas diriku
Mudah-mudahan Ia yang tetapkan hatiku memilihmu
Agar nanti padaNya saja kuserahkan penjagaan dirimu

Wahai yang diibaratkan olehNya dengan kalimat sempurna
Kaannahunna al yaquutu wal marjan
Permata yakuut dan marjan
Padamu kutuliskan rangkaian kata sederhana ini

Tak ada yang sempurna dalam pandangan manusia
Begitu pula aku dengan kesadaran atau tidak
Pastilah penuh cela dan aib yang belum kau sangka
Biar kuhibur hatiku dengan janji itu : Wa wa jadaka-a ‘iilan fa aghna

Engkau adalah ayatnya
Wa min aayatihi
Dari jenisku sendiri
An kholaqolakum min anfusikum azwajaa

Kuharap temukan ketentraman disana
Litaskunu ilaiha
Semoga keridhoanNya mengantarkan pada kasih dan sayang
Wa ja’ala bainakum mawadah wa rahmah
Sehingga makin terbuka akal kita akan kesyukuran dan kesabaran
Karena sungguh
Inna fi dzalika la aayatin li qaumin yatafakkaruun

Kini biar kujaga diriku
Agar nanti bisa tercapai asa itu bersamamu dalam sebuah mitsaqan ghaliza
Wahai bidadari di serambi hatiku
Khairaatun hisaan … huurun maqshuuraatun fiil khiyaam …

Amin ya Robbal ‘Alamin

Bandung, 5 Maret 2008
Usai Subuh di Tepian Hati yang Bergemuruh
http://www.rezaervani.com/
komunitas : http://groups.yahoo.com/group/rezaervani
Aku Jatuh Cinta
oleh : Reza Ervani

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.
(Al Quran Al Karim Surah Maryam ayat 96)


Kenapa seseorang bisa jatuh cinta ?
Berbunga-bunga hatinya
Mengalir dalam darahnya butir-butir semangat membara
Nafas lelah berubah jadi motivasi dan asa

Kenapa seseorang bisa jatuh cinta ?
Saat terbangun, mentari seakan lebih cerah dari biasanya
Mimpipun terasa singkat di malamnya
Dan senandung menjadi lazim tiap pagi harinya

Kenapa seseorang bisa jatuh cinta ?
Keringatnya kini jauh lebih sedikit dari kerja
Pikirannya pun lebih jernih seakan banyak jalan terbuka
Tangan dan kaki yang tadinya lemah kini lebih bertenaga

Kenapa seseorang bisa jatuh cinta ?
Bukan hanya karena pandangan akan rupa
Tak pula kata-kata yang menggoda
Karena itu semua mungkin hanya jalannya semata

Kenapa seseorang bisa jatuh cinta ?
Karena ada relung di balik dadanya
Tempat ia merasakan suka dan nestapa
Dimana ia simpan mimpi dan cita-cita

Kenapa seseorang bisa jatuh cinta ?
Karena sungguh Maha Sayang Sang Pencipta
Ia ciptakan seraut rasa suka
Yang bisa ciptakan puisi berjuta kata

Kenapa seseorang bisa jatuh cinta ?
Semata-mata karena anugerah Sang Kuasa
Dalam bentuk fitrah seorang manusia
Agar dengan makhluk lain ia menjadi jauh berbeda

Dan kini aku sedang .... Jatuh Cinta

Bandung, Medio Februari 2008

(original writing by Reza Ervani)
http://www.rezaervani,com/
komunitas : http://groups.yahoo.com/group/rezaervani

Monday, January 28, 2008

Kerinduan Itu : Pasangan Jiwa
www.rezaervani.com

Kadangkala aku bertanya
dimana cinta berada
tersembunyi tiada kunjung menghampiri
(Katon Bagaskara - Pasangan Jiwa)

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.
(Al Quran Al Karim Surah Adz Dzariyat ayat 49)

Maha Besar Allah ...
Ada yang akan terasa hilang, kosong, hingga hampa ketika fithrah ilahiyah itu tidak terpenuhi. Begitupun jiwa, yang memiliki naluri untuk menyandarkan harapan dan kelelahannya pada sesuatu.

Dari naluri kehilangan itulah lahir ribuan bait puisi tentang ungkapan kasih
Dari kekosongan itulah terukir ribuan kisah tentang rasa sayang
Dari kehampaan itulah terbit ribuan karya tentang cinta

Begitu jauh
waktu ku tempuh
sendiri mengayuh
biduk kecil, hampa berlayar
akankah berlabuh ?
hanya diam
menjawab kerisauan

Orang lain mungkin sewaktu-waktu dapat bertanya : "Kenapa engkau masih sendiri ?"
Tapi sungguh tak ada yang paling sering bertanya tentang ini, selain jiwa itu sendiri.
Tak ada yang pernah tahan berada dalam kesendirian, tapi kadang tidak mudah untuk mencari teman dalam kesendirian itu.
Tak ada yang pernah kuat bertarung dalam kesepian, tapi sungguh tidak mudah untuk menemukan penawar sepi itu.
Kan ada selipan rasa khawatir akan kelemahan insani dalam menggariskan pilihan, sehingga karenanya justru langkah-langkah yang rapuh dan sangat perlahan justru terhenti.

Kadangkala aku berkhayal
seorang di ujung sana
juga tengah menanti
tiba saatnya

Jangan kau tanya tentang kerinduan ...
Jangan pula kau tanya tentang impian ...
Karena mungkin hampir lelah diri bertahan ...

Lama sudah menanti hadirnya ruang lain untuk berbagi ...
Tempat berlabuh kala penat sudah tak tertahankan
Tempat bersembunyi kala hati menangis dan hilang asa ...

Begitu ingin
berbagi batin
mengarungi hari
yang berwarna
dimana dia
pasangan jiwaku ?
ku mengejar bayangan
kian menghilang
penuh berharap

Robbana hablana min azwajina wa dzuriyatina qurrota 'aiun ...
Wajalna lil muttaqina imama ...

Amin ya robb

(Original Writing by Reza Ervani)
Bandung, Akhir Januari 2008
Komunitas : http://groups.yahoo.com/group/rezaervani

Sunday, January 13, 2008

Bunda, Menulislah
(Original Writing by Reza Ervani)

Ini kisah dalam bingkai waktu yang telah lalu, tapi tak usang, tidak akan pernah pudar dan lekang.

Masa dimana dering telepon genggam belumlah menjadi kebiasaan. Masa dimana surat masihlah berupa untaian kata-kata pilihan di atas selembar kertas wangi dan penuh hiasan. Tinta yang kadang berpendar karena tetesan air mata keharuan menjadi bahasa yang penuh kekuatan antara dua hati yang tak terpisah walau raga berjauhan.

Kala itu, kotak surat adalah jembatan dimana kerinduan dititipkan.
Didalamnya ada ribuan rasa yang mewakili ribuan kalimat jiwa.

Seorang muda, dalam bilik kecil yang sedikit lembab, senantiasa berdoa, semoga esok ia temukan seberkas cinta disana. Tak mengapa jika sampulnya usang, karena yang ingin ia lihat adalah cinta yang terangkai dalam berkas-berkas lipatan di dalamnya.

Kotak itu adalah yang pertama kali ia ketuk sebelum sampai ke pintu persinggahannya selama tiga tahun terakhir. Kadang, senyumnya mengembang, kala sebuah benda putih tampak menunggu disudutnya. Kalaupun tak ia temukan, tak pernah ia berhenti berharap. Atau jika ada sedikit rezeki lebih, ia goreskan kembali penanya di malam-malam tanpa jarak.

Setelah menulis, tak bosan ia tengadahkan tangan, meminta kekuatan agar cita-citanya tak pudar oleh deraan keterbatasan. Di penghujung doa syahdu itu, ia titipkan kalimat indah ....

"Bunda .... Menulislah ... Berikan Nanda Penawar Rindu Ini"

Allahumaghfirlana waliwalidayna warhamhuma kama robbayana shighoro
Sayangi mereka ya Robb, sebagaimana mereka membimbing kami dengan kasih sayangnya ....

Amin

Ditulis di Bandung untuk Bunda dan Ayahanda tercinta
2 Muharram 1429 H

Saturday, December 15, 2007



Penulis Suka Hujan
Oleh : Reza Ervani
www.rezaervani.com

"Ketika hujan turun, seakan-akan ada atap yang menaungi bumi"
(Dare Devil)

Penulis suka kalimat itu, seperti pula penulis menyukai saat-saat hujan turun dengan lebat.

Suara hempasan air ke tanah atau genting-genting rumah melahirkan alunan melodi sendiri yang sangat indah. Begitu indahnya sehingga ia mampu menggali dan merekam kenangan sekaligus.

Penulis suka Hujan ...
Dulu ketika kecil, kami sepulang sekolah sering bermain di bawah hujan. Kadang-kadang selembar dua lembar kertas dari buku tulis yang memang sudah tipis rela kami korbankan untuk membuat kapal-kapalan, menghanyutkannya di aliran air pinggir jalan tanpa selokan, berlari dan menebak-nebak arah geraknya. Sebuah keasyikan yang akan senantiasa terukir dalam kenangan indah masa kecil.

Penulis suka Hujan ...
Karena saat hujan ada ketenangan yang sulit digambarkan
Ketenangan yang membuat hati seakan bertemu kawan sejati. Dalam pejaman mata, gambaran rumah papan kecil tempat kami dulu tinggal sekeluarga, pasir dengan goresan-goresan sapu lidi di halaman depan, hingga ember-ember yang berjejer untuk menampung air yang lolos dari halangan genting rumah, menjadi semakin indah seiring bertambahnya usia.

Penulis suka Hujan ...
Semoga ia membawa cinta kepada Yang Menurunkan Hujan

Amin



"Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman."
(Al Quran Al Karim Surah Al An'aam ayat 99)

(Original Writing by Reza Ervani at Daarut Tauhid)
komunitas : http://groups.yahoo.com/group/rezaervani

Monday, December 10, 2007

Menunggu
oleh : Reza Ervani
http://www.rezaervani.com/

Ada yang bilang bahwa menunggu itu membosankan ...
Benarkah ?

Menunggu ...
Seperti yang kulakukan saat menulis ini
Duduk di stasion gambir menunggu kereta Jakarta - Bandung yang baru akan tiba sekitar 1 jam lagi. Menjadi jelas apa yang kulakukan karena memang apa yang sedang kunantikan kemungkinan besar akan tiba.

Aku tetap duduk menunggu, karena alasanku untuk tetap duduk memang ada. Bahkan menjadi sebuah kenikmatan, karena sambil menunggu akau bisa bermain dengan kata, menulis buku harianku dengan pensil kesayangan. Dua benda yang kini selalu menemani kemanapun aku pergi.

Kadang saat menunggu, bertemu pula aku dengan teman bicara yang hangat, seperti pula yang kutemukan sore ini. Lelaki paruh baya, pengusaha itik asal Surabaya. Pak Hasan namanya ....

Beliau juga sedang menunggu, bahkan lebih lama dariku. Keretanya baru akan tiba nanti pukul lima, sedangkan aku pukul tiga saja, tersisa sekitar 30 menit lagi waktu menunggu. Dan memang, tiap kita punya waktu tunggu masing-masing.

Menunggu ...
Dari sholat ke sholat ...
Dari Jumat ke Jumat ...
Dari Ramadhan ke Ramadhan ...
Dari Kehidupan ke Kehidupan ... yang lebih abadi ...

Dan ...
Kita semua menunggu
Entah itu dalam bosan atau keriangan ...


Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?
(Al Quran Al Karim Surah Al An'aam ayat 32)


Stasiun Gambir, 6 Desember 2007
(Original Writing by Reza Ervani)
komunitas : http://groups.yahoo.com/group/rezaervani

Sunday, December 09, 2007

Egoisme Nasihat
Oleh : Reza Ervani
www.rezaervani.com


"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhamu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk" (Al Quran Al Karim Surah An Nahl ayat 125)

Jika ingin digeneralisasi, hanya akan ada 2 (dua) perspektif perilaku manusia :

1. Perilaku yang berorientasi keakuan
2. Perilaku yang berorientasi kepedulian

Sangat tipis batas antara keduanya

Terkadang, apa yang kita rasa, kita lakukan karena peduli dengan orang lain, tak lebih hanyalah bentuk keakuan kita, atau mungkin tercampur dengan setitik ego yang sebenarnya telah menyebabkannya lepas dari nilai sejatinya.

Itupula yang menyebabkan nasehat-nasehat kita menjadi tidak atau kurang bertenaga. Kita goreskan nasehat, atau kita sampaikan petuah, seringkali lebih dikarenakan keinginan kita untuk menunjukkan bahwa diri kita paham agama. Seringkali tindak pelurusan kesalahan lebih didorong oleh keakuan kita yang merasa berhak meluruskan, bukan karena dorongan kewajiban yang tulus.

Lalu dari sanalah lalu tampak nyata seringnya kita memandang sesuatu yang dinasehati sebagai objek, bukan subjek nasehat.

Kita lebih sering mengambil posisi sebagai hakim dibanding sahabat.

Egoisme nasehat ... ia mungkin sudah mendarah daging
Bahkan mungkin kau bisa temukan dengan mudah dalam bahasa tulisan ini.

Naudzubillahi min dzalik

Robbana dzhalamna anfusana, wa inlam taghfirlana, wa tarhamna lana kunana minal khosirin

Amin

Muntok, 5 Desember 2007
Komunitas : http://groups.yahoo.com/group/rezaervani

Friday, November 30, 2007

Teguran dalam Cinta
Oleh : Reza Ervani

Aku jatuh terpeleset di tangga ...
Lengan kiri terluka cukup panjang dan sendi kelingkingnya bengkak, menjadi sulit untuk digerakkan. Bahu dan pinggang kanan terkilir. Alhamdulillah, saat-saat seperti inilah kekuatan untuk menulis itu kembali tumbuh.

Ia memang punya cara sendiri untuk menemani hambaNya.
Ia punya sentuhan sendiri untuk katakan, bahwa niat akan serta merta hilang ketulusan tanpa dekat padaNya.
Bahkan diam dalam kesendirian pun mungkin masih sarat keangkuhan, jika tanpa asa akan RahmatNya.

Meletakkan tempayan di bawah atap dan berharap cucurannya seringkali membuat lupa diri ini akan langit diatasnya yang menjatuhkan air hujan ... Dan Ia punya kekuatan sendiri untuk membuat dagu menengadah kembali dan gantungkan harap disana.

Ahh, malam ini kucoba resapi kembali CintaNya, yang menegurku dengan cara selembut-lembutnya.

Aku ... yang merasa sepi, padahal Ia tak pernah pergi dari sisiku, hingga Ia sentuh aku dengan seindah-indahnya, agar berpaling lagi padaNya.

Teguran dalam CintaNya ... kan selalu terasa sejuk dan menenangkan.

Hasbiyallah wa ni'mal wakiil, ni'mal maula wa ni'man nashir.

Bandung, dalam sela gemericik hujan yang menenteramkan di akhir November 2007


(Original Writing by Reza Ervani)
http://www.rezaervani.com
komunitas : http://groups.yahoo.com/group/rezaervani



Tuesday, March 20, 2007

That Journey
Oleh : Reza Ervani


Apa yang paling mahal dari seseorang ?

Mari kita telusuri jawabannya.

Kita akan merasa begitu terkesan dengan seseorang yang berangkat dari bawah, jatuh bangun mempertahankan cita-citanya. Adakalanya ia terhempas jauh sekali ke dasar kehancuran tak bertuan, tapi kemudian beberapa tahun kemudian anda melihat ia bangkit bahkan lebih tinggi dari yang pernah anda lihat.

Banyak contoh orang yang tadinya terhina karena kekurangannya, tapi kemudian menjadi sangat mulia, karena hinaan itu menjadikannya kuat dan mampu menghargai cacat orang lain. Banyak nama yang bisa anda catat disini, Bobby de Porter, Honda, Maradona hingga Tukul Arwana.

Yang saya ceritakan diatas hanya ujung awal dan ujung akhir dari sebuah perjalanan. Perjalanan yang menempa mereka menjadi kuat dan tegar. Perjalanan yang kadang tidak pendek. Perjalanan yang kadang menyakitkan dan tak kuat untuk terus ditempuh. Tapi mereka lalui itu, hingga temukan terang diujungnya.

Bagaimana dengan kita ? Seberapa mahal perjalanan hidup kita ?

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar
(Al Quran Al Karim Surah Al Baqarah ayat 155)


Allahu ’Alam

Monday, March 19, 2007

The Pleasure of Finding Things Out
Oleh: Reza Ervani


Ya, anda benar, judul tulisan ini pernah terdengar. Penulis sendiri mengambilnya dari artikel wawancara BBC atas Fisikawan terkenal, Richard P. Feynman.

Menemukan alasan tentang sesuatu memberikan kepuasan tersendiri, begitulah mungkin jika artikel wawancara itu diringkaskan dalam sebuah kalimat singkat.

Bertanya, adalah naluri dasar yang dikaruniakan buat manusia. Kami pernah membuat acara gathering pembaca buku yang menghadirkan seorang penulis buku berjudul ”Bertanya atau Mati”.

Menghalangi seseorang untuk bertanya akan meninggalkan ketidakpuasan. Mengganti kebebasan untuk bertanya akan merubah pengetahuan menjadi doktrinasi. Maka terjadilah kemudian doktrin guru kepada muridnya, doktrin orang tua kepada anaknya hingga doktrin dosen kepada mahasiswanya. Jika ini terjadi, maka hilanglah semangat berilmu pengetahuan.

Agama juga menganjurkan kegiatan diskusi. Sering kita temukan redaksi di Al Quran Al Karim seperti : Yasalunaka ani. (Mereka bertanya padamu tentang), Wa idza sa’alaka (dan jika mereka bertanya kepadamu). Tak tanggung-tanggung, bahkan Quran juga membuka pintu untuk bertanya tentang Tuhan, mencerna keberadaannya dengan ilmu pengetahuan.

Tapi tak cukup bertanya, karena pertanyaan juga bisa menjadi nafsu besar yang tak habis-habisnya, seperti yang diujikan Nabiullah Khaidir kepada Nabiullah Musa. Kemudian Allah pun mengingatkan, agar kita tak terjebak dalam pertanyaan yang tak pernah usai.


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Qur'an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah memaafkan tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.
(Al Quran Al Karim surah Al Maidah 101)


Jadi, tanya kenapa ?

Allahu ’Alam

Friday, March 02, 2007

Jenuh
Oleh : Reza Ervani

J : Jangan Berlebihan
Ada seorang wanita yang datang pada Aisyah. Aisyah memuji wanita itu sebagai ahli ibadah yang luar biasa, karena saking tekunnya ia menyediakan tongkat untuk berpegangan jika ia sudah tidak kuat berdiri ketika sholat.

Ketika hal itu disampaikan pada Nabi saw. Nabi bersabda : Jangan berlebihan, Allah itu tidak akan jenuh hingga engkau jenuh.

Atur ritme dalam segala hal, agar tak usang.

E : Efektifkan Komunikasi
Logika apa yang paling bisa menjelaskan maraknya friendster, ramainya sms, dan larisnya free talk walaupun tengah malam. Intinya sederhana, karena manusia diciptakan dengan kebutuhan untuk bercerita dan berbagi. Curhat dong, cari teman bercerita

N : Naik Ke Tantangan Berikutnya
Looking for new challenges. Ummat ini dilahirkan untuk menjadi ummat terbaik, khairu ummah, ini sunatullah. Melanggarnya hanya akan melahirkan kejenuhan. Kejenuhan bergerak, kejenuhan beramal, kejenuhan berinisatif. Naiklah ke anak tangga berikutnya, agar kau bisa uji kekuatanmu lebih jauh.

U : Undur Sejenak untuk Maju Lebih Jauh
Ijlis Bina’ Nu’min Sa-ah, begitu ujar sahabat Nabi. Berhentilah sejenak, perbaharui iman, bersihkan sepatu yang sudah berdebu, asah kembali pedang yang tumpul, ambil air wudhu cuci wajahmu hingga bisa menatap ke depan lebih jauh lagi.

H : Hasbiyallah wa Ni’mal Wakill Ni’mal Maula Wa Ni’man Nashir
Sungguh kejenuhan itu adalah masalah hati. Dan Maha Penggenggam hati hanyalah Allah semata. Qolbu itu artinya yang berbolak-balik, ketika ia berbalik atau tertutup debu maka cahaya Allah akan terhalang, maka lahirlah kejenuhan. Maka tengadahkan tanganmu padaNya, minta Ia jaga hatimu agar tidak mati karena enggan dan malas.


Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina,
yang banyak mencela, yang kian ke mari menyebarkan fitnah,
yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa,
(Al Quran Al Karim Surah Al Qalam ayat 10 – 12)

Naudzubillahi min dzalik,

Salam,